Kaya dengan AKHLAQ
BINTANG MAULANA
Allah SWT berfirman:
”Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
(QS. At-Taubah [ 9]: 24)
Rasulullah SAW bersabda:
“Harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong bagi pemeliharaan ketakwaan kepada Allah.”
(HR. Ad-Dailami)
Menjadi kaya dan masuk surga, siapakah di dunia ini yang tidak menginginkannya? Hidup bergelimang harta, fasilitas hidup serba mudah dan apa yang diinginkan serba ada. Hidup kaya raya, mati masuk surga. Kalau saya boleh berpendapat, semua orang di dunia ini pasti menginginkannya. Bahkan rasanya tidak ada yang menginginkan hidup sengsara. Hidup serba kekurangan dalam himpitan kesulitan dan penuh penderitaan.
Ada sebuah sajak yang memang betapa lebih baiknya menjadi mandiri secara finansial sedini mungkin dari pada menunggu hingga kelak umur kita menua.
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi.
&&&&&
Aku lalai dihari pagi
Beta lengah dimasa muda
Kini hidup meracuni hati
Miskin ilmu, miskin harta…
(Sebuah sajak populer karya A. Hasyimi)
Menjadi kaya, tidak akan didapat hanya dengan berangan-angan. Anak kecil juga tahu akan hal itu. Akan tetapi, menjadi kaya hanya bisa didapat dengan usaha dan kerja keras. Masa depan kita bukan di tangan siapapun, masa depan kita terletak di genggaman kita sendiri.
Bahkan Nabi Muhammad SAW dikatakan dalam sejarahnya adalah seorang entrepreneur tangguh, sejak kecil sudah ikut pamannya berdagang dan akhirnya melesat drastis setelah bertemu Siti Khodijah seorang janda kaya. Kalau Nabi Muhammad SAW saja seperti itu, mengapa kita tidak bisa mencontoh beliau untuk berusaha keras.
Rasulullah SAW adalah suri tauladan kita, baik dalam bersikap maupun dalam hal berbisnis. Beliau mengajarkan kita tentang bagaimana cara berbisnis yang baik sehingga bisa meraih kekayaan ataupun keuntungan dengan benar.
Rasulullah saw pun pernah mengatakan: “Kekayaan itu tidak berbahaya bagi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT”.
Menjadi kaya itu adalah dambaan semua orang. Akan tetapi tidak semua orang bisa mewujudkan atas apa yang mereka damba-dambakan itu. Ada orang yang berhasil mewujudkan kekayaannya dengan cara yang salah sehingga merugikan orang lain tetapi disisi lain ada banyak orang yang berhasil menggapai apa yang didamba-dambakannya itu dengan cara yang benar.
Walaupun Islam menganjurkan kita kaya tetapi Islam melarang kita untuk menjadi kaya dengan cara yang salah. Marauk keuntungan yang melimpah tetapi disisi lain banyak orang merasa dirugikan baik disadari maupun tak disadari. Oleh karena itu, jadilah kompetitor harta dengan berorientasi surga.
Wallahu A’lam.



06.32
BELAJAR cepat KAYA

Posted in:

1 comments:
yang dengan kekayaannya tersebut keimanannya juga bertambah dengan syukur dalam berbagai bentuk prakteknya
Posting Komentar